The falling autumn. (Taken with instagram)
.
Tidakkah kau merindu pada malam-malam.
Serupa cawan mendamba air.
Aku menyaksikan rindu-rindu menjadi amarah.
Menjadi keheningan, diam.
Aku mengintip pada jendela-jendela mu.
Aku tahu tak ada aku disana.
Kau membiarkan aku bertanya.
Mencari misteri itu sendiri.
Tanpa kau pandu.
Aku hilang.
Titik.
28 April 2012
‘maybe’ is the new ‘yes, but tomorrow’. (Taken with instagram)
Good morning Paris. :) (Taken with instagram)
—Puisi Terakhir Gie
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal, dan lucu.
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mendalawangi.
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.
Mari sini, sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita takkan pernah kehilangan apa-apa.
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan.
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda.
Dan yang tersial adalah berumur tua.
Berbahagialah mereka yang mati muda.
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada.
Berbahagialah dalam ketiadaanmu.
- Soe Hok Gie
(via rarasekar)
Udah lama ga ngInstagram. (Taken with instagram)
Ne reviennent pas
Peu de temps après, nous avons rencontré.
J’ai décidé d’arrêter de vous poursuivre.
Ne me suivez pas plus, je suis allé avec le vent du printemps.
Vous avez également allé avec le vent poussait la poussière pendant la saison sèche.
Ne reviennent pas.


